SEJAK dihantam kerusuhan yang dipicu konflik antar etnis dan agama pada 1999 lalu, pesona Maluku khususnya Kota Ambon mendadak pudar. Keindahan panorama alam dan wisata bahari yang menjadi daya tarik bagi para pelancong seolah mati suri.Seiring waktu, Maluku berbenah diri. Sejumlah festival budaya dan adat kembali digalakkan untuk menarik wisatawan terutama dari manca negara yang dulu sering berkunjung ke Kota Ambon dan pulau-pulau di Maluku.
Namun baru pada event Sail Banda 2010, nama Maluku kembali menarik minat para wisatawan yang terusik kenangan masa lalu akan Kota Ambon dan Pulau Banda yang tercatat dalam sejarah internasional karena kekayaan rempah-rempah.
Nama Kota Ambon dan Pulau Banda tak asing bagi dunia internasional khususnya bangsa Eropa. Sejarah mencatat, kedua tempat ini menjadi pusat perdagangan dan armada angkatan laut di wilayah timur Indonesia pada masa penjajahan Bangsa Portugis dan Belanda.
Sejumlah negara lain, seperti Inggris, Australia dan Jepang juga memiliki catatan sejarah terkait Kota Ambon dan Pulau Banda, ketika pecah perang dunia II. Hal itu, terbukti dari peninggalan sejarah berupa benteng, monumen bahkan makam tentara dan warga negara tersebut yang dapat ditemui di Kota Ambon dan Pulau Banda.
Goresan sejarah itulah yang membuat pelancong dari Belanda, Australia dan Jepang sering mengunjungi Kota Ambon dan Pulau Banda. Bahkan pemerintah Australia, tepatnya Walikota Darwin mengajak Walikota Ambon untuk menjalin kerja sama sister city yang ditandai dengan perlombaan kapal layar Darwin-Ambon (The Darwin To Ambon Yatch Race) pada 1976.
Sejak saat itu, kedua kota menggelar perlombaan kapal layar secara bergantian setiap tahun, pada bulan Juli-Agustus. Baik Kota Darwin maupun Kota Ambon bergantian menjadi tuan rumah untuk melepas para peserta lomba kapal layar yang terus bertambah jumlahnya.Jika pada 1976 lomba tersebut hanya diikuti enam kapal layar yang menempuh perjalanan 600 mil laut, pada 1998 atau setahun sebelum pecah kerusuhan Ambon, jumlah peserta tercatat mencapai 104 yacth.
Saat itu, banyak pelayar manca negara menjadikan Kota Ambon sebagai starting point untuk mengarungi 13.000 kepulauan di Indonesia, sebagian ke Manado, Makasar, Buton, Bali, bahkan ada yang menuju Raja Muda Selangor Regatta di Malaysia.
Mengapa Ambon? Bukan Bali yang terkenal atau Bunaken yang menyimpan keindahan biota laut? Jawabannya sederhana. Letak Pulau Ambon yang strategis karena berada pada wilayah pertemuan Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, membuat para pelayar dapat beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan mengarungi samudera menuju pulau-pulau yang dituju.
Apalagi Teluk Ambon yang tenang, laut yang masih tergolong bebas dari polusi, kota kecil yang tak ramai dan penduduknya ramah, membuat Ambon menjadi tempat yang cocok bagi pelayar untuk melepas lelah setelah berhari-hari berlayar.
Namun sejak kerusuhan melanda Maluku dan nyaris membuat Kota Ambon mati suri, perlombaan kapal layar Darwin-Ambon pun dihentikan. Alasan keamanan, membuat turis asing khususnya para pelayar enggan menengok Kota Ambon.
KeramahanSiapa sangka, kenangan akan keramahan warga Kota Ambon itulah yang membuat para pelayar kembali terpanggil untuk menghidupkan The Darwin To Ambon Yatch Race. Setelah terhenti sejak 1999, perlombaan tersebut kembali dimulai pada 2006 meskipun hanya diikuti empat kapal layar yang seluruhnya dari Darwin, Australia. Hal itu, tidak terlepas dari kegigihan pemerintah Kota Ambon untuk mendekati pemerintah Kota Darwin dan The Dinah Beach Cruising Yatch untuk kembali menghidupkan perlombaan tersebut.
“Banyak orang tentu bertanya kenapa harus Ambon? Karena kami memiliki hubungan historis yang sangat dekat dan terjalin lama, jauh sebelum kami menyelenggarakan Lomba Kapal Layar Darwin-Bali dan Darwin-Kupang,” ujar Wayne Huxley, Cairman race Organising Comitee.
Event Sail Banda 2010, lanjutnya, menjadi tonggak kebangkitan wisata bahari masyarakat Maluku, karena banyak pelayar internasional yang ikut serta dalam lomba kapal layar Darwin-Ambon begitu juga wisatawan asing yang mengunjungi Maluku.
Jumlah kapal layar yang ikut lomba ada 106, dilepas Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad dari Kota Darwin pada 24 Juli 2010. Kapal Layar berbendera Australia, Cruise Missile menjadi kapal pertama yang mencapai garis finish di Pantai Desa Amahusu, pada 26 Juli 2010.
“Ambon sudah aman. Ini pesan bagi dunia internasional yang akan terus kami sebarkan kepada sesama pelayar. Mudah-mudahan dengan Sail Banda 2010, wisata bahari di Maluku kembali bergairah,” ujar Kevin Mearns, salah satu peserta lomba kapal layar Darwin-Ambon berkebangsaan Australia.
Jika Anda ingin menyaksikan kapal-kapal layar berpadu dengan kapal-kapal nelayan tradisional di perairan Teluk Ambon yang tenang, datanglah ke Kota Ambon pada Juli-Agustus setiap tahun. Meski tak ada Sail Banda, Festival Teluk Ambon akan menyajikan rangkaian lomba kapal layar internasional dan lomba dayung perahu tradisional Maluku "Arumbae Manggurebe" di sekitar Teluk Ambon, lengkap dengan balutan alunan musik dan tarian khas masyarakat Maluku. Siapa tahu, Anda jadi tergugah dan makin menyadari bahwa Indonesia memang negeri bahari yang nenek moyangnya adalah pelaut. [Jeany A Aipassa]

