Ibu: Debu & Rindu

Pertemuan sore itu menyisakan pesan yang mengganggu pikiran dan membekas di hati. “Jangan sampai terlambat untuk bilang sayang padanya,” kata Kinan sore itu.


Dengan linangan air mata Kinan menceritakan pengalamannya waktu kecil. Ia merasa sangat terasing dari hangatnya sebuah keluarga. Tidak ada kata yang manis yang ia dengar tiap kali bertanya pada ibunya di dapur. Tidak ada sambutan hangat tiap kali pulang sekolah. Tidak ada uang jajan lebih seperti adik-adiknya. Tapi Kinan hanya anak-anak yang tidak mengerti apa-apa mengapa ibunya pilih kasih.

Pada saat Kinan dewasa tidak ada lagi cerita itu. Jarak antara Kinan dan ibunya melebur menjadi kehangatan. Saling mencari, saling merindu, saling berbagi. “Gue bisa cerita apa saja sama nyokap (ibu) gue. Bahkan soal cowok gue,” ujar Kinan. Bahkan Kinan kerap mengulang pertanyaan yang sama pada ibunya, “Menurut Mama, Kinan sayang nggak sama Mama?” tutur Kinan.


Belum lagi kering air mata Kinan, Joan menimpali cerita serupa, “Gue masih belum bisa ngelupain nyokap gue, meskipun dia sudah pergi lama.”


Haru biru di tengah nyaringnya klakson mobil dan derasnya hujan sore itu membuatku terpaku. Tidak ada kata yang ingin kusampaikan. Kutahan perasaan agar tidak berbicara. Aku menahan diri untuk tidak meneteskan air mata.


***


Lidahku kelu. Membayangkan hari terakhir aku bertemu dengan ibu. Mengingat-ingat kapan aku tidur di pangkuan ibu. Meraba-raba kapan terakhir aku dipeluk ibu. Mencoba mengingat kapan terakhir aku bercerita tentang hidupku pada ibu.

Ternyata aku tidak mengingat apa-apa. Aku hanya mengingat hari terakhir bertemu ibu. Hari yang cukup menjengkelkan waktu itu.

Ibu sekarang tidak sehat benar. Di usianya yang ke-82, ibu tergolong wanita kuat. Fisiknya sangat segar. Jalannya masih sangat gagah. Ibu juga tergolong wanita jarang sakit. Tapi setelah ditinggal Abah (ayah) dua tahun lalu, kondisi ibu tidak lagi sekuat yang terlihat. Jantungnya kerap kambuh. Stroke pun sudah menghampiri beberapa kali. Hari-harinya tidak sesibuk dulu saat abah masih ada.


Ibu selalu rajin menyiapkan sarapan pagi untuk abah. Tidak jarang dia memasak makanan kesukaan abah, meskipun dia tidak tahu bagaimana rasa makanan yang ia masak sendiri. Semur otak kambing salah satu makanan favorit abah yang selalu ibu masak setiap Lebaran Haji tiba.


Tapi Ibu selalu lupa memasak makanan kesukaanku. Tiap kali aku ke rumah, ibu sibuk menyiapkan makanan, tapi bukan makanan yang kusuka. Dia selalu memasak makanan kesukaan anak lelakinya. Dengan terpaksa aku pun mengunyah masakan ibu hanya agar ibu senang.


Sejak kecil aku dan kakak-kakak harus belajar mengaji. Abah yang mengajarkan kami mengaji. Abah juga yang membangunkan kami tidur untuk salat subuh berjamaah. Abah yang selalu mengabsen anak-anaknya untuk pergi sekolah.


Abah seorang guru. Tidak sedikit murid di pesantren abah. Sejak kecil aku sudah dipaksa membaca kitab-kitab gundul (kitab kuning) bersama santri dewasa. Tapi itu tidak terjadi dengan kakak laki-lakiku. Dia bebas bermain ke mana saja. Dan ibu selalu membela saat abah siap mengganjar kakak dengan sapu lidi. Aku tidak mengerti kenapa ibu selalu membela anak laki-lakinya.


***


Hari terakhir aku bertemu ibu, hal serupa terjadi. Ibu tidak membelaku ketika aku melarang ibu dibonceng anak laki-lakinya naik sepeda motor. Aku khawatir ibu terserang stroke lagi. Naik sepeda motor bagi ibu sangat berisiko. Terpaan angin dan berkonsentrasi agar tidak jatuh baginya adalah perkara besar yang diabaikan begitu saja oleh kakak lelakiku.


Tapi kekhawatiranku percuma, kasih sayangku tak berharga. Ibu selalu punya alasan untuk membela anak laki-lakinya.


Aku tidak tahu apa yang dipikirkan ibu tentang aku, anak bungsunya.


“Ibu kebanyakan memang begitu. Lebih sayang kepada anak laki-lakinya. Tapi sebagai anak ya kita tetap harus memulai.” Nora menimpali ceritaku sore itu. Nora satu-satunya sahabat kami yang orang tuanya masih lengkap. Iren, Joan, Kinan dan aku hanya memiliki satu orang tua. Hanya satu yang tertinggal. Hanya satu yang masih ada. Dan aku hanya punya ibu.


Sejak dua tahun lalu abah meninggal dunia karena stroke. Satu tahun terbaring di tempat tidur tanpa kata-kata. Tidak ada pertanyaan, tidak juga pesan yang ditinggalkan. Abah hanya meninggalkan kebaikan dan tanah kuburan.


Setiap saat aku masih ingin bicara dengan abah. Sampai saat ini keinginan itu masih deras mengalir. Aku ingin bicara.


Sebaliknya, aku tidak tahu harus berbicara apa dengan ibu. Aku tidak punya kata-kata selain menanyakan kesehatannya. Aku tidak tahu apa yang ingin kuceritakan. Aku tidak punya cerita yang bisa kubagi. Bahkan aku tidak punya keinginan untuk bicara seperti aku ingin bicara dengan abah yang jelas-jelas sudah tidak ada.


“Bilang sayang sama dia, sebelum terlambat,” ujar Kinan memecahkan keheningan. Iren mengangguk, mengiyakan saran Kinan.


Malam kian larut, cerita kami pun kian panjang. Kami saling berbagi cerita.


“Kinan, ingin rasanya saya seperti kamu. Saya janji akan mencobanya,“ ucapku dalam hati.


Aku ingin mengucapkan sayang kepada ibu. Seperti yang Kinan lakukan pada ibunya. Seperti halnya Joan dan Iren lakukan. Juga seperti Nora yang setia menjaga ibunya. Aku ingin seperti kalian. Meski hati ini terasa sakit setiap kali mengingat cerita ini.


Kemarin aku mendapat kabar ibu sakit. Tepatnya sudah empat hari ibu panas dan kondisinya memburuk. Hatiku sakit mendengar kabar ini. Air mataku juga tidak terbendung. Tapi aku tidak sanggup melihatnya. Ada yang tidak bisa dimengerti.


Aku tidak tahu mengapa.


Jakarta, 17 September 2010

Share:

Facebook    StumbleUpon    Newsvine