Kembali ke Jakarta
Pada saat Gabriel memasuki usia satu tahun Alexandria untuk pertama kalinya meninggalkan Bandung. Niatnya sudah bulat untuk kembali ke Jakarta. Bukan ke rumah ibunya yang tengah sakit, tapi ke rumah Vano. Sore itu bagian depan rumah sederhana yang dihuni keluarga Vano tampak lengang. Alexandria memencet bel, tak beberapa lama seseorang muncul membukakan pintu. Ini pasti Maria, istri Vano.
“Maria, ini Gabriel. Anak gue sama Vano,” Alexandria menunjukkan bayi mungil dalam gendongannya.
“Apa?” Maria sontak kaget tak bisa berkata-kata. Maria tak kuasa menahan lelehnya air mata. Sambil mempersilakan tamu tak diundang itu dia sekilas memandang wajah Gabriel yang menawan. Mereka duduk dalam beku ruang tamu berukuran 3 x 3 itu.
“Gabriel cantik ya, matanya seperti Vano. Kamu tinggal di mana sekarang? Vano masih kerja, kamu tunggu ya sampai dia pulang,” tangan Maria dijulurkan, berusaha menggendong Gabriel kecil.
Entah apa yang dirasakan Maria ketika itu. Hatinya mungkin hancur berkeping-keping. Kepalanya mungkin sudah pecah. Tapi naluri perempuannya lebih kuat. Dia tegar karena cintanya kepada Vano. Dia kuat dalam imannya sebagai perempuan.
“Tadinya gue mau aborsi. Gue mau bunuh tuh anak. Karena Vano nggak mau bertanggung jawab.” Cerita Alexandria menggebu-gebu, “Tapi ternyata Tuhan berkata lain, gue disadarin setelah dia bergerak-gerak di perut gue.”
“Sejak itu gue sabar menunggu dia lahir. Gue sabar nggak menuntut apa-apa dari Vano, bahkan nggak membenci dia. Gue juga sabar nggak minum Heineken, gue sabar nggak nyimeng lagi.”
“Aku sempat mendengar kabar soal kehamilan kamu, tapi nggak pernah terpikir itu anak Vano. Sama sekali nggak,” Maria gelagapan, “andai tahu dari awal ini anak Vano, aku bersedia dia menikahi kamu.”
Betapa mulianya hati Maria. Alexandria hanya tertunduk, menahan sedih dan amarah yang dia simpan selama ini. Dia tidak menduga hati Maria selembut itu.
Tak terasa malam kian larut. Vano tidak juga kunjung pulang. Ini tidak seperti biasanya. Maria tampak sedikit cemas karena telepon genggam Vano tidak bisa dihubungi.
Alexandria dan Gabriel sudah tidur di kamar anak Maria. Mungkin dia lelah setelah seharian menempuh perjalanan Bandung–Jakarta.
Jarum jam menunjukkan pukul 3 pagi ketika pintu pagar bergesekan, seperti ada yang membuka. Rupanya Vano pulang.
Bibir Maria yang tipis pun mengembang. Hatinya lega. Maria tidak sedang takut ke mana Vano pergi, tapi dia kalut karena ada Alexandria dan Gabriel kecil.
“Kok pagi sekali pulangnya?”
“Iya, tadi mendadak ke Bali, pulang penerbangan malem. Nemenin Bos,” Vano memberi penjelasan.
“Teh panas ya Pa?”
“Nggak usah deh, mau langsung tidur saja. Capek banget.”
Maria terdiam. Bingung mau memulai bicara dari mana. Jantungnya berdegup kencang, tapi bibirnya seolah terkunci.
Dia hanya mengikuti Vano memasuki kamar mereka.
Pagi harinya, Maria mengajak Alexandria dan Gabriel sarapan pagi. Vano yang tengah menggigit roti bakar berselai cokelat kacang kesukaannya tersentak kaget. Bibirnya tak kuasa berkata-kata. Maria hanya sesekali memandangi wajah Vano yang salah tingkah.
“Ini anak lu. Namanya Gabriel,” Alexandria menyorongkan bayi dalam gendongannya, “tadinya gue mau aborsi. Mau gue bunuh karena lu nggak mau tanggung jawab. Tapi gue sadar aborsi itu salah yang tak termaafkan.”
“Dan karena gue cinta sama lu, makanya gue tunggu sampai Gabriel lahir.” Alexandria menyantap roti bakar yang dihidangkan Maria, sementara Maria sibuk menggendong Gabriel yang sedikit rewel.
“Maukah kamu memaafkanku?” Vano membisikkan lembut di telinga Alexandria. Tanpa menunggu jawaban Alexandria, Vano beranjak, mengangsurkan tangan, hendak menggantikan Maria menggendong Gabriel.
“Kamu tatap wajah Gabriel. Matanya persis mata kamu,” kata Maria sambil memandang suaminya yang tampak mulai berkaca-kaca, menahan tangis. Air mata itu akhirnya meleleh tak tertahankan ketika Vano, sambil tetap menggendong anaknya, berlutut di hadapan Alexandria.
“Terima kasih, kamu telah memberiku cinta yang tulus. Kesabaran yang tak terhingga,” katanya lirih. “Maafkan aku karena aku menjadi orang yang picik dan jahat. Menjadi orang yang tak bertanggung jawab.” Kalimat-kalimatnya menjadi sangat santun, kata ganti orang pertama bukan lagi gue dan kata ganti orang kedua juga bukan elu.
Alexandria tidak mampu berucap sepatah kata pun. Dia ikut menangis.
Di hadapan Maria, Vano berlutut memohon ampun atas segala salah. “Maafkan aku Ma, Maafkan salahku.” Ucap Vano pelan. Maria memeluk Vano erat. Seolah memberi tanda bahwa dia sudah memaafkan suaminya sejak Alexandria memasuki rumahnya.
Maria cukup bijaksana dengan menerima Alexandria menjadi bagian dari keluarganya. Memberikan tempat untuk Gabriel sebagai anak asuhnya. Maria juga membiarkan suaminya bernostalgia dengan Alexandria.
Maria begitu takut mengecewakan Vano. Dia menjaga Gabriel dengan sangat hati-hati. Rasanya dia takut mengecewakan suaminya bila mencederai anaknya, meski dia tahu Gabriel adalah kesalahan suaminya.
Apa yang dilakukan Maria semata ingin membahagiakan Vano. Ingin menjaga cintanya yang tulus. Selama ini Maria berusaha melayani suaminya sedemikian rupa, agar Vano tidak punya alasan untuk mencela kekurangannya. Tubuh, misalnya, dia rawat baik-baik supaya tidak gembrot dan tampak membosankan sebagaimana umumnya para istri yang tidak lagi peduli pada hasrat suami setelah anak-anak mereka lahir.
Bersambung Ke Bagian ke V (dua)

