Cinta Alexandria & Selinting Ganja (Bag. V)

Alexandria Kalut

Alexandria ingin hidup sebagai istri yang setia seperti Maria. Tinggal di rumah, mengurus anak, menunggu suami pulang. Memasak dan mencuci pakaian untuk suami dan anak-anak. Ringkasnya Alexandria ingin menjadi istri yang baik.

Tetapi rupanya nasib berkata lain. Dia kembali ke dunianya yang lama. Setelah ada pernyataan yang jelas bahwa Maria akan terus mengasuh Gabriel, Alexandria kembali menyewa rumah kos yang dulu dia tinggali bersama suaminya yang kini entah ke mana.

Sore ini Alexandria sendiri di kamar kosnya. Telah dia beli tiga botol minuman keras. Diteguknya sampai mabuk. Dia seperti tengah balas dendam dengan kehidupannya yang selama ini hilang.

Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara motor berhenti. Begitu pintu kamar dibuka, Vano melangkah masuk. Alexandria terkesiap menahan napas.

Aroma parfum yang sudah sangat akrab dengan indra penciumannya itu langsung menyergap hidungnya. Menimbulkan sensasi aneh, seperti meruapkan gairah yang sudah berabad-abad tidak pernah dirasakannya lagi. Mengencangkan debar jantung yang berbeda dari ritme yang biasa. Gairah Vano yang telah lama terlelap seperti mendadak tersentak bangun. Sekujur tubuhnya memanas, tak sabar untuk memuntahkan lahar panas.

Dibalut gaun mini berwarna putih, Alexandria masih menampilkan sosok yang memikat. Meski tubuhnya sudah lebih gemuk, tapi rambut ikalnya, bulat matanya, tipis bibirnya sangat menantang. Dan ketika sedang menatap punggung elok itu Vano tak sabar rasanya ingin memeluk. Vano ingin mencumbu Alexandria lagi.
 “Alexandria...” sapa Vano.

Mata Alexandria menatap lekat wajah Vano berlumur perasaan tak percaya. Sebuah rindu yang tertahan. Di remangnya lampu kamar kos, mata mereka bertemu, menatap getir tapi lembut. Itulah sepasang mata yang sangat dicintainya. Mata yang suatu waktu pernah menjadi miliknya.

Penampilan Vano tidak berubah sedikit pun. Masih tetap sehangat dulu. Segagah dulu. Potongan rambutnya juga masih sama seperti dulu, agak botak. Perutnya juga masih sama gendutnya.

Sejenak keduanya dibungkam kebisuan. Dibius kerinduan yang tak berujung. Berahi pun tak terbendung lagi.

Tak ada kata yang terucap, meski banyak yang ingin ditanyakan. Lama mereka tertegun beku dalam pelukan. Seperti patung yang dipajang di pojok-pojok pusat pertokoan.

“Aku ingin membunuhmu,” tiba-tiba Alexandria memecahkan keheningan. Sontak Vano pun terkejut. “Hahhahhahaha...,” Alexandria tertawa liar, disusul jeritan dan rengkuhan ke leher Vano, “aaahhhhhgghht! Gue bunuh dalam hati gue.”
Wajah Vano merona tersipu. Botol Heineken pun dia tenggak perlahan. Ganja yang sudah dia linting siap dibakar. Bila asap ganja yang terbakar mengepul ke seluruh ruangan, Alexandria berujar, “Gue rindu suasana seperti ini.”

Berbotol-botol minuman keras tak lagi bersisa. Lintingan ganja tinggal abu. Hanya baju yang berserakan di bawah ranjang. Mereka akan kembali bercinta lagi.

Eits, tetapi hati Vano rasanya menangkap sesuatu yang lain. Perasaan yang timbul dari cara bagaimana Alexandria melayaninya.

“Lu bayar gue,” Alexandria menuntut, “karena sekarang gue berhubungan seks hanya dengan orang yang mau bayar gue. Setidaknya, kalau gue hamil jadi impas.”

Benar saja, kini Alexandria sudah milik setiap lelaki yang mampu membayarnya. Nyeri dada Vano mendengar kata-kata Alexandria malam itu. Lebih-lebih melihat sikapnya yang seperti pelacur profesional. Hatinya terkoyak. Segitu dalamkah sakit hati Alexandria sampai dia menghapus kemesraannya yang tulus.

Sambil menahan pilu, Vano terpaksa mengambil korek di dalam asbak di atas meja. Menyalakan dan menyulutkannya pada selinting ganja di bibir Alexandria. Saat itu wajah mereka amat dekat. Vano merasakan napas Alexandria membelai kulit wajahnya. Dia merasa terbuai sekaligus ingin menangis.

Sebaliknya, Alexandria berusaha menyimpan kepedihan dalam-dalam. Dia ingin menyembunyikan sakit yang menggigit jiwanya. Diisapnya lintingan ganja dalam-dalam untuk menenangkan diri. Lalu asapnya diembuskan sebelum mencoba bertanya dengan nada sesantai mungkin, “Bagaimana perasaan lu sama gue?”

Vano hanya terdiam. Dia mengambil dompetnya yang lusuh dan mengeluarkan dengan gemas. Lalu ia menumpahkan seluruh isi dompetnya ke atas meja.

“Itu cukup untuk membeli ‘waktumu’ malam ini?” tanya Vano.

Alexandria memandang uang yang bertebaran di atas meja itu dengan dingin.  

“Cukup untuk membayar tubuhku juga,” sahut Alexandria dalam nada yang sedikit melecehkan. “Ini bukan uang dari Maria kan?” tanya Alexandria sinis.

“Nggak penting uang dari mana,” jawab Vano sengit.

Alexandria membuka bajunya dengan santai. Dia duduk di pangkuan Vano dengan tubuh yang polos. Matanya tajam menatap Vano penuh kehancuran.

“Kamu semakin gemuk. Nggak seseksi dulu.”

“Gue gembrot karena Gabriel,” Alexandria mengelak.

Dengan gaya sok profesional Alexandria berputar di depan Vano tanpa sehelai benang pun. Dia bersikap manja, berusaha menggoda Vano. Sesekali lidahnya menjilat telinga Vano.

Vano meraih tangan Alexandria lalu memeluknya erat. Dia mencium bibir Alexandria dengan dingin. Tapi Alexandria menghukum bibir Vano dengan penuh gairah dan kerinduan. Dengan perasaan yang bercampur. Pedih, sakit hati, rindu, cinta, dan entah apa lagi.

“Apakah ciumanku masih sehangat dulu?” tanya Vano.

Alexandria tak menjawab. Tepatnya mungkin tak lagi sempat menjawab. Alexandria sudah tak sabar ingin dilumat Vano malam itu. Sebelum lelaki-lelaki lain menerkamnya pada malam, siang, pagi, sore, atau kapan pun hasrat purba bernama berahi itu meminta dan uang tersedia di kantong mereka.  
 
 Bersambung Ke Bagian ke VI (dua)  

Share:

Facebook    StumbleUpon    Newsvine