Alexandria mencari Ayah Anaknya
"Gue hamil,” kata Alexandria ketika sedang berbaring bersama Vano di kamar kosnya, “Kemarin sudah dua kali tes. Positif.”
“Yakin positif?” Vano kaget.
“Iya.”
“Terus?”
“Nikahin gue,” Alexandria kembali meminta.
“Nggak mungkin!” Vano menjawab gelagapan.
“Nggak mungkin gue punya istri dua!”
“Nggak mungkin gue menceraikan Maria.”
“Lagipula itu anak siapa?” tanya Vano geram.
Alexandria menangis. Dia terisak menahan perih. Jaminannya, tentang impas bila hamil karena sudah dibayar, tertagih sudah. Lagi-lagi Vano tak mau bertanggung jawab atas kehamilan keduanya. Tapi memang cukup beralasan kenapa Vano menolak kali ini. Alexandria bisa tidur dengan 15 lelaki dalam satu minggu. Ada yang bayar, ada pula yang gratis.
Maspri, yang selama ini setia melayani Alexandria karena dia bekerja sebagai office boy kantornya, juga pernah mencicipi tubuh Alexandria. Suatu kali terdengar ocehan Maspri yang mungkin menggambarkan bagaimana bangganya dia bisa tidur dengan ‘atasannya’ itu. “Tidak perlu bayar. Si Jeng cukup dikasih selinting,” kata Maspri, “jadi slow saja.”
Alexandria bangun dari tempat tidurnya. Lalu ia membakar puntung ganja yang tersisa di asbak. “Impian jadi ibu yang baik, biarlah hanya mimpi.”
Dalam keadaan yang susah dirumuskan lantaran tersudut, Vano buka suara, menuding persisnya, “Jangan-jangan anaknya Maspri.”
Alexandria tidak menjawab. Dia malah sibuk mengangkangi Vano yang terbaring lemas di atas ranjangnya. “Lupain saja dulu,” ujar Alexandria tiba-tiba.
Vano pun tak kuat menahan hasratnya berlama-lama.
Tiba-tiba suara motor berhenti persis di depan kamar Alexandria.
“Jeng....” Dari nadanya, itu pastilah suara Maspri. Tamu tak diundang. Berkali-kali Maspri megetuk pintu kamar kos Alexandria. “Jeng, bukain dong.”
Tanpa meminta izin Vano, Alexandria membukakan pintu untuk Maspri. “Kebetulan, gue mau bilang sama lu, gue hamil lagi.”
Maspri terkejut bukan main. Dia tak mengira hari itu akan mendapat kabar yang sangat mengagetkan. Maspri hanya tertunduk malu melihat Vano yang masih terbaring di atas ranjang.
“Gue tahu Pri, lu pasti sama pengecutnya sama Vano. Nggak akan bertanggung jawab sama anak ini,” Alexandria melemah, “tapi setidaknya lu bantu gue dong buat mengingat-ingat, kira-kira ini anak siapa?” Alexandria berharap ada yang bersedia menjadi ayah dari anak dalam kandungannya.
“Iya Jeng. Nanti aku tanya-tanya. Aku kirimi SMS nama-nama yang tidur sama Jeng ya,” Maspri mencoba mengajukan jaminan.
“Ya sudah sana. Mengganggu saja.” Alexandria mengusir Maspri.
Tiba-tiba Vano bangkit. Berdiri tegak di hadapan Alexandria. Memegang kedua tangannya dan memandang ke dalam matanya sungguh-sungguh.
“Kamu mau kan maafin aku lagi. Maaf, aku nggak bisa menikahi kamu!”
“Maaf tidak bisa menjadi ayah anakmu yang ini?” Alexandria membalas tatapan Vano dengan kebencian.
“Aku tahu ini pasti mengecewakanmu,” sambung Vano
“Ya iyalah, masa gue senang.” Timpal Alexandria sengit.
“Gue sudah tahu kok jawabannya. Karena lu pengecut, karena lu cuma mau enaknya saja.” Seperti hendak menghibur diri, malah Alexandria melanjutkan kalimatnya dengan lelucon yang sangat kasar, “Kalau gue, cari enak sama cari duit. Biar mantan laki gue yang impoten itu tahu, dunia itu hampa tanpa seks.”
Mungkin dia kecewa berat. Mungkin itu juga cara dia mengungkapkan kekesalannya terhadap Vano yang selama ini sok setia pada istrinya, Maria.
Vano menghela nafas panjang. Rasanya percuma saja memberikan penjelasan, betapa sulitnya posisi dia yang mempunyai istri setia dan anak yang lucu-lucu. Hati Alexandria pun sebenarnya sudah membatu. Beku diselimuti dendam. Sisa-sisa cintanya berusaha menyelinap keluar.
“Aku pulang dulu, besok kita ketemu lagi,” Vano pamit pulang meninggalkan Alexandria sendiri.
Dalam kesendirian Alexandria kembali kalut. Dalam perjalanan yang dipintal penuh kesabaran dan keteguhan Alexandria menjadi liar. Dia mencari cinta ke jalan yang berliku dan terjal. Berharap ada tawa yang tulus, cinta yang abadi, dan laki-laki yang siap menggagahi. Lelaki perkasa yang bersedia menjadi ayah anak dalam kandungannya.
Dia berjuang sendiri hanya untuk sesuap nasi. Dia berjuang sendiri menghadapi kerasnya hidup. Dia sendiri menghalau matahari dan gelapnya malam. Dia sendiri dalam dinginnya malam. Dia juga sendiri saat berahinya datang!
Kandungan Alexandria semakin besar. Tidak seperti saat mengandung Gabriel, ada Cessia yang mengajaknya berdiskusi dan menemaninya tertawa. Kini Cessia lama menghilang membawa persoalannya sendiri, tak mau berbagi. Alexandria tahu sedikit saja: Cessia mencari cintanya, cinta yang juga terlarang karena lelaki pujaannya sudah menjadi suami orang.
Demi mempertahankan perasaan sayangnya, dia memilih untuk menetap di kota di mana lelaki itu tinggal.
Hanya Maspri yang masih setia menemani Alexandria. Sesekali dia datang membawakan makanan untuknya. Roti, juga susu untuk ibu hamil.
Kali ini Alexandria bertahan di kamar kosnya yang sempit. Dia sudah tidak peduli dengan larangan ibu kos, dia tak lagi menghiraukan gunjingan tetangga. “Jeng, minum dulu susunya.” Maspri menyiapkan segelas susu untuk Alexandria.
“Jeng, aku boleh bicara?” tiba-tiba Maspri serius ingin bicara.
“Bicara aja.”
“Sejujurnya, aku mau aja menikahi Jeng, tapi nggak sanggup ngomong sama pacarku. Juga sama emakku di kampung.”
“Terus?”
“Terus....Jeng juga pasti malu kan punya suami office boy yang katro seperti aku,” Maspri tertunduk malu-malu.
“Aaagghhhht, lu Pri. Bikin gue jadi mikir lagi pengen punya suami.”
“Tapi sudah ah. Gue sudah nggak apa-apa kok. Yang penting sekarang elu temenin gue kalau gue butuh. Kasih gue duit kalau gue pinta ya,” Alexandria menjawab dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa dengan fisiknya. Maspri kembali ke kantornya. Kantor Vano juga.
Keesokan harinya, Vano mengetuk pintu kamar kos Alexandria. Tapi percuma saja dia mengetuk. Sia-sia saja dia menunggu di luar. Kamar kos itu kosong.
Mustahil Alexandria tidak terbangun oleh suara ketukan pintu Vano kalau memang dia tertidur. Vano terus saja menggedor, tapi tetap tidak ada jawaban.
Ibu kos yang tinggal di sebelah hanya terdiam melihat Vano. Dia bungkam seribu bahasa karena sudah jengkel dengan kelakuan Alexandria.
Cepat-cepat Vano mengejar pembantu rumah ibu kos saat dia keluar pagar. “Lihat Alexandria?” Vano bertanya cemas.
“Lihat. Tadi pagi-pagi sekali pergi dengan om-om. Mobilnya bagus, Mas,” jawab si pembantu itu meyakinkan.
Vano setengah sakit kepala mendengarnya. Cemas memikirkan rencana apa yang tengah Alexandria susun. Vano tidak rela bila terjadi apa-apa terhadap Alexandria.
Vano pergi meninggalkan kamar kos Alexandria dengan kecewa. Lalu dia berkeliling Jakarta menghabiskan harinya berharap ada telepon masuk. Hari itu dia sudah izin kantor dan berencana akan menghabiskan waktunya bersama
Alexnadria saja. Ternyata dia mendapatkan kejutan.
Malam dia kembali ke kamar kos Alexandria. Kamarnya masih gelap dan tak bersuara. Alexandria tidak ada.
Setiap hari Vano datang ke kamar kos Alexandria. Berharap ada kabar. Seminggu sudah Vano menunggu. Juga belum ada kabar.
“Bos tahu nggak si Jeng ke Madura?” tiba-tiba Maspri mengejutkan Vano.
“Tahu dari mana kamu?”
“Dari status facebooknya. Baru saja lihat. Dia bilang begini, ‘Mencari dia yang selama ini pergi ke Madura. Biar Impoten, kalau mau jadi ayah anak gue kenapa nggak?’”
“Buka facebooknya aja Bos,” Maspri meminta Vano.
Meski belum yakin betul keberadaan Alexandria di mana, setidaknya Vano sudah mendapatkan tanda bahwa Alexandria
masih dalam keadaan baik-baik saja. Seolah tak menggubris cerita Maspri, Vano melanjutkan pekerjaannya.
“Bos, kok cuek Bos?” tanya Maspri.
“Slow aja. Seperti kata lu,” balas Vano.
“Hahahha. Kalau begitu kita nyelow dulu yuk Bos.”
Maspri mengajak Vano keluar membakar selinting ganja. Melupakan sejenak tentang Alexandria. Baru satu kali isap telepon genggam Vano berdering. Nomor rumah Vano. “Pa, Gabriel demam tinggi, mengigau terus, sebut-sebut nama mama Alex,” serbu Maria di ujung telepon.
“Kompres dulu saja. Terus telepon dokter. Papa belum bisa pulang,” Vano berusaha memberi ketenangan. Dalam benaknya tetap kalut, takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan dari Gabriel. Lebih dari itu dia tidak menghendaki Maria tahu bahwa Alexandria hamil lagi.
Dia tidak mau menyakiti hati Maria. Karena dalam hati kecilnya, dia merasa anak dalam kandungan Alexandria mungkin saja anaknya.
Vano pergi meninggalkan kantor. Bukan pulang ke rumah, melainkan ke bar. Ketika dia masuk ke dalam bar, dia melihat Alexandria duduk di samping seorang laki-laki gemuk. Rambutnya ikal. Usianya tak muda lagi. Mukanya merah, mungkin kebanyakan minum.
Tanpa permisi Vano langsung duduk di samping Alexandria. Dia meneguk gelas yang disodorkan laki-laki itu untuk Alexandria hingga habis. Sebelum lelaki itu meledak dan menghajarnya, dia menyodorkan setumpuk uang.
“Maaf salah booking!” katanya pada pria paruh baya itu.
“Apa-apan ini?” Alexandria bingung.
“Ayo pulang! Gabriel sakit,” Vano menjelaskan.
“Kan sudah ada mama Maria. Buat apa ada gue?” Alexandria seolah tak peduli.
“Yakin nggak mau lihat Gabriel?” sahut Vano, “selamanya elu bakal nyesel!”
Vano pergi meninggalkan Alexandria dengan segudang kekecewaan. Dia tidak mengira Alexandria menjadi wanita yang tidak dia kenal lagi.
“Tunggu!” Alexandria mengejar Vano, “gue ikut.”
Vano terkejut dengan sikap Alexandria yang luluh. Nuraninya sebagai ibu ternyata masih ada. “Harusnya lu nggak perlu ke sini lagi. Liat perut lu yang makin gendut.”
“Gue butuh duit!”
“Kecuali lu mau biayain hidup gue, sama anak di perut gue,” Alexandria meradang.
Vano terdiam di atas motornya. Tak mau berlama-lama dia mengajak Alexandria meninggalkan bar. Bukan ke rumahnya, melainkan ke kamar kos Alexandria. Malam itu Vano giting ganja dan tak tahan lagi menahan berahinya. Ratusan telepon Maria tak digubris lagi.
Bersambung Ke Bagian ke VII (tujuh)

