Maria Juga Hamil [Bag.VII]
Mendengar suara motor memasuki parkiran, Maria bergegas memburu Vano. Dia seperti mendapatkan malaikat. Maria mendekap erat. Mereka saling rangkul di teras rumah. Saling impit. Vano menciumi pipi Maria seolah-olah sudah seabad suami istri ini terpisah.
Alexandria hanya tercenung melihat sikap Maria. Dia berdiri di belakang mereka tanpa satu kata pun. Perasaannya tercabik melihat kemesraan suami istri ini. Hatinya galau. Tulangnya seperti rontok menyaksikan orang yang dia cintai tengah bermesraan dengan istrinya. Tapi untuk Gabriel, dia menahan semua hasrat itu dengan membisu.
“Ayo masuk Alexandria. Gabriel di kamarnya,” Maria mengajak Alexandria ke dalam.
Alexandria mengikuti langkah Maria menuju kamar Gabriel. Jantung Alexandria berdegup kencang saat mendapati Gabriel kecil terkulai lemas dan kain putih kompresan di keningnya. Alexandria segera memeluk erat Gabriel. Air matanya tak terbendung lagi. Rasa bersalahnya meninggalkan bidadarinya seperti tak terobati.
“Dokter bilang, Gabriel cuma kangen mamanya,” tutur Maria.
Alexandria terdiam. Memandang lekat wajah Gabriel yang semakin cantik. Tak terasa Gabriel sudah tiga tahun. Dalam benaknya ada kisah yang tidak ingin disembunyikan, tapi tidak terucap, “Gabriel, bidadariku, sebentar lagi kamu akan menjadi kakak.”
Tangan Alexandria tak henti-hentinya membelai rambut Gabriel yang terurai panjang. Gabriel tumbuh seperti peri kecil. Mata Alexandria tak berhenti berkedip memandangi wajah cantiknya.
“Lex, Aku hamil lagi,” tiba-tiba Maria mengejutkan.
“Keanu dan Gabriel sebentar lagi akan punya adik. Aku bahagia banget Lex, rumah ini sebentar lagi ramai,” katanya berseri-seri.
Alexandria hanya tersenyum kecil memandang wajah Maria. Lalu tangan Alexandria menarik tangan kanan Maria mengarahkan ke perutnya.
“Pegang, Aku juga hamil Maria.”
“Gabriel dan Keanu memang akan punya adik lagi, dua adik sekaligus,” balas Maria, kata-katanya tetap tulus.
Alexandria dan Maria hanya duduk di pinggir ranjang Gabriel, tanpa sepatah kata pun. Dua wanita ini sama-sama hamil, sama-sama mencintai satu laki-laki, Vano. Tapi nasib mereka berbeda. Maria lebih beruntung karena memiliki status sebagai istri, Alexandria hanya wanita liar yang menemani Vano saat dibutuhkan.
“Ma, mama....” Gabriel memanggil.
“Ya...”
“Iya sayang...” Maria dan Alexandria tergopoh-gopoh memberi pelukan untuk Gabriel. “Mama di sini sayang,” Alexandria tak kuasa menahan titik air matanya. Benaknya meringis menahan pilu. Ingin rasanya dia membawa lari Gabriel sejauh mungkin. Tapi apa daya. Dia tak sanggup membawa luka untuk Gabriel. Dia ingin Gabriel kecil tetap tersenyum. Meminum susu layaknya anak-anak.
“Kandunganmu berapa bulan Lex?” tanya Maria.
“Tiga bulan,” jawab Alexandria.
“Aku baru dua bulan, baru ketahuan. Vano juga belum tahu. Tadi saking bahagianya aku hanya peluk dia erat-erat,” tutur Maria jujur.
“Aku lama ingin hamil lagi. Sejak Keanu usia tiga tahun. Tapi bersyukur, sekarang diberi kesempatan lagi untuk hamil,” Maria kembali mengusap-usap perutnya.
“Iya, lu hamil tiap tahun juga enak. Ada suami yang menanggungjawabi, ada rumah yang bagus, pekerjaan yang baik. Sementara gue?” Alexandria menggugat, iri pada nasib Maria. “Gue hanya wanita jalang. Yang setiap kali hamil nggak ada ayah anaknya. Sekalinya punya suami, impoten. Tinggal di kos sempit. Kalau hujan kebocoran. Mau pulang rumah mama? Nggak tega liat mama sakit-sakitan.”
Alexandria tak meneruskan kata-katanya. Dia terdiam di sudut kamar. Memandangi langit-langit kamar Gabriel yang dihiasi bulan dan bintang yang menyala bila gelap. Seisi kamar Gabriel juga penuh dengan boneka Barbie yang cantik-cantik. Sebuah kamar yang cukup indah. Kamar yang tak sanggup ia berikan. Bahkan membelikan satu boneka Barbie saja dia belum pernah.
Dalam diam Alexandria menjerit menangisi nasibnya. Meratapi perjalanan hidupnya. Menyesali pernikahannya dengan si tampan yang sampai hari ini belum juga mencerainya secara resmi.
“Ngomong-ngomong, suamimu, si Dhimas itu, apa kabarnya? Masih ada kontak?” pertanyaan Maria tiba-tiba mengejutkan Alexandria. Seakan Maria tahu apa yang tengah ia pikirkan.
“Apa? Dhimas?”
“Iya. Apa kabarnya dia?”
“Hooo. Nggak tahu. Sampai sekarang nasib gue digantung. Istri bukan, janda bukan.”
Alexandria kesal. Ingin muntah rasanya mengingat ingat nama suaminya yang impoten itu. Alexandria merasa suaminyalah yang menjadi penyebab hidupnya semakin rusak. Nasibnya semakin tak menentu. Harapan-harapan dia menjadi perempuan yang santun, istri yang setia dirusak oleh alasan tidak perawan dan impotensi.
“Biar saja dia pergi. Toh gue juga sudah muak dengan sikap-sikap dia yang sok manis, sok agamais, sok jantan, sok berduit, sok, sok, sok lainnya deh,” keluh Alexandria.
“Jangankan menonton bioskop, buat makan dan beli rokok saja dari dompet gue. Nyusahin kan?” mulai Alexandria bercerita. “Ngerepotin kan? Belum lagi bawel kalau gue pulang malam!”
“Mmmmm....” Gumam Maria.
“Ya, memang garis nasib manusia tidak ada yang tahu. Di mata kamu, mungkin aku terlihat bahagia. Karena memiliki segala yang kamu sebut tadi. Tapi apa yang aku rasakan kamu tidak tahu,” Maria balas membuka pembicaraan masalah pribadinya.
“Hatiku sakit begitu tahu suamiku selingkuh dengan temanku sendiri. Jantungnya terasa copot begitu melihat kamu datang membawa anak dari suamiku. Aku merasa tidak berarti Lex,” Maria memegang tangan Alexandria. Dia terus memuntahkan isi hatinya kepada Alexandria.
“Tapi sebagai ibunya Keanu aku harus kuat. Aku harus bertahan mempertahankan rumah tangga ini!”
“Seburuk apa pun perbuatan suamiku,” Maria bertekad.
“Aku bukan malaikat Lex, bukan bidadari yang punya hati emas. Yang selalu sabar dan tak punya marah. Tapi melihat Gabriel dan Keanu, kemarahan itu semua musnah.”
“Sekarang kamu harus jawab, siapa ayah dalam kandunganmu ini?” tanya Maria.
“Entah,” Alexandria menjawab dengan bingung.
“Mungkin Vano, mungkin juga Maspri, mungkin juga om Andi, mungkin juga om Thomas, gue nggak tahu,” Alexandria seperti tak mau ambil pusing, “gue tidur sama mereka semua. Tapi yang paling sering memang sama Vano. Karena gue masih cinta sama dia.”
Maria hanya terdiam mendengar pengakuan Alexandria, terbakar hatinya. Dia berusaha kuat dan bangkit melihat kenyataan.
“Dan suamiku tahu apa yang kamu lakukan?”
“Tahu,”jawab Alexandria singkat. “Makanya dia semakin nggak mau nikahin gue!”
“Tapi kan status kamu memang belum cerai dari Dhimas,” Maria berusaha memberi penjelasan, “nggak mungkin kan suamiku menikahi kamu dalam status masih istri orang?” Maria coba sedikit meneneangkan keadaan.
Hati Alexandria semakin teriris mendengar pernyataan Maria. Kata-kata Maria menyulut kemarahannya. “Dhimas memang suami sialan. Sudah impoten, menghina gue dengan cara seperti ini.” Air mata Alexandria menetes ke pipinya yang merona.
“Padahal gue dulu cinta banget sama dia.” kata Alexandria.
Maria tak diam. Tangan dia sibuk mengganti kompresan Gabriel yang mengering. Suhu badan Gabriel juga sudah membaik. Wajahnya sudah terlihat berseri dan mau tersenyum.
“Alexa, kalau kamu masih ingin dinikahi oleh suamiku, urus dulu perceraianmu dengan Dhimas. Aku akan bantu bicara dengan Vano,” kata Maria menenangkan hati Alexandria, sangat bijak.
“Nggak!” tolak Alexandria, “gue sudah bisa hidup dengan cara gue sendiri. Soal si impoten, gue memang harus cerai dari dia. Percuma juga jadi istrinya dia. Sudah kere, nggak jantan lagi.”
Hari semakin larut. Waktunya makan malam. Maria sangat jarang menikmati makan malam satu meja dengan Vano. Karena padatnya jadwal kantor masing-masing. Tapi malam itu mereka seperti memiliki keluarga baru yang berbahagia.
Bersama-sama mereka menyiapkan makan malam. Menu kesukaan Vano jadi pilihan untuk santap mereka kali ini. Sop buntut goreng dan sambal hijau dilengkapi jeroan sapi ala Jawa. Es jeruk dan buah jadi pelengkap.
“Ini makan malam pertama gue di meja rumah sejak ayah gue meninggal lima tahun lalu.” Alexandria memecah keheningan. “Itu juga gue lupa kapan persisnya.”
“Ya, anggaplah ini makan malam welcome home untuk kamu,” kata Maria yang sedang menyiapkan minuman.
Vano belum terlihat di antara mereka. Hanya Keanu yang sibuk main mobil besarnya di ruang tengah. Hari itu Keanu juga tidak seperti biasanya. Tidak rewel seperti hari-hari biasanya. Sekana dia mengerti dengan persoalan yang tengah terjadi di rumah itu.
Alexandria menaiki anak tangga menuju lantai dua. Ada Vano di sana, sedang asyik mengisap selinting ganja.
Alexandria pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia duduk di pangkuan Vano. Lintingan ganja diisap bergantian dengan Vano.
Maria di ruang makan masih sibuk menata meja sebaik mungkin. Secantik mungkin. Dia tidak ingin membuat kecewa malam itu.
Semua menu makan malam selesai dihidangkan. Keanu pun sudah duduk rapi menunggu waktu makan di mulai. “Pa....makan sudah siap.” Dengan suara tinggi Maria memanggil Vano.
Tidak ada jawaban. Tidak ada tanda-tanda dari Vano.
“Alex.... ayo kita makan dulu,” Maria kembali berteriak memanggil. Lagi-lagi tidak ada jawaban dari Alexandria. Kaki Maria perlahan melangkah menaiki anak tangga. Hingga mencapai paling atas, dia terdiam kaku seperti disambar petir. Menyaksikan Alexandria yang sedang bercumbu dengan Vano.
Vano tersadar ada Maria di depannya. Dia langsung bergegas turun meninggalkan Alexandria. Dengan ringan dia menggandeng Maria ke meja makan. “Ayo kita makan, sudah lapar nih.”
Tidak ada jawaban apa-apa dari bibir Maria. Dia diam sampai makan malam usai. Piring-piring kotor dia cuci bersih tidak seperti biasanya. Pembantu rumahnya pun heran melihat tingkah laku majikannya yang sangat sibuk malam itu.
Di kamarnya, Maria langsung merebahkan tubuh. Ia letih karena cerita yang ia dengar. Karena pemandangan yang ia saksikan.
Vano mendekati Maria. Dia mencium tangan Maria lembut. Tapi rasanya dingin sedingin salju. Tak ada kata malam itu.
Maria hanya menarik tangan kanan Vano mengarahkan ke perutnya yang membuncit. Memberi sinyal kalau dia tengah hamil dan akan memberikan Keanu adik.
“Kamu hamil ya Ma?” Tanya Vano bahagia.
“Sama seperti Alexandria,” jawab Maria menyindir.
Vano seperti terpanggang api. Dia tersentak mendengar Maria mengetahui kehamilan Alexandria.
“Tapi....”
“Tapi apa?”
“Tapi bukan aku Ma!” Vano berusaha meyakinkan.
“Iya juga nggak apa-apa. Biar Keanu punya adik banyak.”
Sindiran Maria kali ini kena. “Sumpah Ma, bukan Papa,” kata Vano kelabakan.
“Mungkin bukan papa, tapi selama ini papa ikut nyumbang kan? Setidaknya matanya atau kulitnya yang dari papa.” Tak henti-hentinya Maria membuat Vano keki.
Vano tak tahan lagi. Dia terdiam membisu tertunduk menciumi perut Maria yang membuncit. Bibirnya tak sanggup lagi berkata-kata. Vano yang jantan, Vano gagah di atas ranjang, malam itu terlihat lesu dengan segudang rasa bersalah.
“Dokter bilang apa?” Vano membuka bibirnya berusaha memberikan perhatian untuk Maria.
“Dokter bilang, anak dalam perut ini anaknya Vano,” Maria lagi-lagi menyindir.
“Ma, pliiisss!”
“Plis apa?”
“Dokter bilang apa?”
“Berapa bulan katanya?”
“Kenapa? Papa ragu ini anak siapa?” tak henti-hentinya Maria membuat Vano tak berkutik. Dalam hatinya gemas ingin marah. Tapi tak kuasa. Hanya dengan kata-kata sindiran itu Maria mengungkapkan sakit hatinya.
“Baru dua bulan. Belum tahu laki atau perempuan.” Maria akhirnya tidak tega. Dia menjawab pertanyaan Vano. “Aku sih berharap perempuan!”
“Kenapa?” tanya Vano. “Kan sudah ada Gabriel.”
“Apa? Gabriel?”
“Gabriel memang anak perempuan. Dia cantik. Dia adiknya Keanu karena memang anaknya papa. Tapi ingat, Gabriel tidak lahir dari rahimku.” Maria geram. Bertahun-tahun Maria tidak pernah setinggi itu bicaranya. Tidak pernah selantang itu bicara dengan Vano. Maria cukup sabar dalam menghadapi persoalan apa pun. Maria cukup tegar mendengar berita buruk apa saja. Maria cukup bijaksana dalam mengambil keputusan. Tapi malam itu berbeda. Dia garang. Dia lantang.
Apa sebab?
Rupanya Maria tegar dan sabar karena dia tidak pernah sekalipun menyaksikan sendiri perbuatan suaminya. Tapi malam ini dia melihat sendiri dengan mata dan kepalanya. Itulah alasan kenapa Maria tidak lagi selembut biasanya.
Ketika matahari pagi terbit, udara pagi merasuki tulang Maria. Dia melangkahkan kaki ke kamar Gabriel. Adalah pemandangan indah buat Maria melihat Alexandria tidur memeluk Gabriel yang cantik. Bibir tipisnya mengembang begitu melihat Gabriel menguap berusaha membuka matanya perlahan-lahan.
“Morning, honey....” Itulah sapaan Maria setiap pagi untuk Gabriel.
Alexandria pun terbangun mendengar suara Maria. “Morning juga cinta,” timpal Alexandria kepada Maria sambil mencium pipi mungil bidadarinya. ”Mornin’, Angle...,” Alexandria menyapa anaknya.
“Kita jalan-jalan ke taman yuk sebelum sarapan,” ajak Maria, “ditunggu di teras ya.”
“Oke,” jawab Alexandria.
Maria menuju ke kamar Keanu. Dia melihat Keanu masih bermalas-malasan di balik selimut tebalnya. “My Hero, bangun yuk. Kita jalan-jalan sama adik Gabriel,” Maria merayu.
Keanu pun langsung membuka matanya. “This is Sutarday morning, Mommy?”
“Yes, my Hero”
“Let’s go Mommy,” Keanu menyeret tangan Maria mengajak keluar kamar.
“Upsstt. Wait. Gosok gigi dulu, cuci mukanya, baru kita jalan-jalan ya,” Maria mengantarkan Keanu ke kamar kecil.
Pagi itu, Maria mengajak Alexandria bicara. Bicara dari hati ke hati sesama perempuan. Sesama wanita yang mencintai laki-laki yang sama.
“Alexa, kamu sungguh-sungguh mencintai Vano?”
“Ingin hidup bersama dia?” Maria bertanya serius.
“Tinggallah bersama kami. Bersama Gabriel,” Maria meminta dengan tulus. Entah malaikat apa yang merasuki jiwa Maria yang sabar. Wanita yang tabah.
Alexandria terdiam. Dia tidak tahu menjawab apa. Hati kecilnya tidak ingin menyakiti Maria yang terlalu baik. Tapi rasa cinta terhadap Vano mengalahkan segalanya.
“Aku memang cinta sama Vano. Tapi dia pernah berucap, dia nggak mau nyakitin elu, Maria. Dia nggak mau punya istri dua. Dia nggak mau kehilangan elu. Dia juga nggak mau kehilangan Keanu.”
Maria menatap kosong ke jalan raya yang sesak dengan sepeda. Pagi itu memang sangat ramai. Ada ibu hamil, bapak-bapak, manula, anak-anak berlomba-lomba menghirup udara segar di taman kompleks rumahnya yang kecil.
Maria sebenarnya sudah tahu apa jawaban Alexandria. Tapi dia ingin mendengar lagi dari bibirnya. Setidaknya itu menjadi pernyataan bahwa Vano masih mencintainya. Alexandria hanya pelengkap kenakalan jati diri Vano sebagai laki-laki.
“Apa pun jawabanmu, tapi kamu mau ya tinggal bersama kami? Setidaknya sampai anak kamu lahir,” Maria kembali meminta.
“Ya, apa boleh buat. Ibu kos gue sudah ngusir gue!”
“Balik ke rumah mama nggak mungkin, yang ada nanti dia koma atau mati begitu tahu anaknya hamil, padahal menantunya impoten,” Alexandria mengangguk, menyetujui permintaan Maria.
Bersambung Ke Bagian ke VIII (delapan)

