Cinta & Jasmine
Rumah Maria seperti taman bermain. Ada dua bidadari mungil. Tangisan Jasmine tak kalah kencangnya dari tangisan Cinta. Jasmine lahir satu bulan lebih dulu dari Cinta. Jasmine anak kedua Alexandria. Kulitnya putih, rambutnya ikal mirip Alexandria. Matanya seperti fotokopi mata Vano.
Apakah itu jawaban bahwa memang Jasmine anak Vano? Entah. Alexandria tak mau ambil pusing. Buat dia, diakui atau tidak sama saja. Sama-sama tak dinikahi sama Vano. Sama-sama ditolak cintanya.
Cinta amat cantiknya. Dia pantas disebut little angle. Rambutnya tebal mirip Maria. Kulitnya merona, hidungnya mancung, matanya bulat. Mata yang sama dengan Jasmine. Mata yang juga dimiliki Gabriel.
Meski mereka lahir di bulan yang berbeda, Jasmine dan Cinta tumbuh sama besarnya. Mereka seperti anak kembar.
Vano hanya memandang Jasmine dari kejauhan. Tidak menyentuhnya. Tidak juga menciumnya. Apalagi menggendongnya seperti dia menggendong Cinta.
“Kamu yang kuat ya Lex,” Maria tak henti-hentinya menyemangati Alexandria.
Alexandria hanya tersenyum kecil. “Gue pasti kuatlah.”
Hari-hari Alexandria disibukkan dengan kehadiran Jasmine. Sementara Gabriel banyak ditemani pengasuhnya. Walau begitu, perhatian Vano terhadap Gabriel tak sedikit pun berkurang. Kasih sayangnya terhadap Gabriel sama dengan seperti terhadap Keanu.
Minggu sore Maria dikejutkan oleh tamu yang tidak dia kenal. Rupanya Cessia. Sahabat lama Alexandria dan Vano yang lama menghilang. Dibalut gaun hitam pendek bunga-bunga, Cessia tampak langsing. Wajahnya terlihat semakin cantik.
Paras keibuannya semakin keluar. Cessia terlihat semakin matang. Cessia memang lebih dewasa dari Alexandria dan Vano.
Samar-samar Maria ingat tentang cerita Cessia. “Ini Cessia? Sahabat Vano kan? Yang fotografer itu?” Tanya Maria.
“Ya, aku Cessia. Kita pernah beberapa kali bicara di telepon dan facebook.”
“Itu empat tahun yang lalu ya? Sudah sangat lama,” kata Cessia mengenang.
“Ayo masuk,” Maria mengajak Cessia.
“Let’s comin’, Honey,” Cessia mengajak buah hatinya, Been.
“Ini anakmu?” tanya Maria.
“Ya”
“Ayahnya?” tanya Maria polos.
“Ayahnya ada di Medan. Tapi Been hanya tahu ayahnya ada,” jawab Cessia berusaha membuka diri.
“Berarti Been anaknya si om ganteng yang fotografer Medan itu?” Maria berusaha mencari jawaban yang pasti. Karena lima tahun lalu samar-samar dia mendengar percintaan Cessia dan Kendi, fotografer terkenal di Kota Medan, Sumatera Utara.
Alexandria memeluk Maria erat. Dia terharu melihat Cessia kembali hadir dalam hidupnya. “Miss u sista....”
Alexandria tak tahan meneteskan air mata.
“Ini Been. Anakku sama Kendi,” Cessia mendekatkan Been ke arah Alexandria.
“Usianya hampir sama dengan Gabriel ya?” tanya Alexandria.
“Tiga tahun dua bulan.”
“Selisih enam bulan dengan Gabriel? Berarti waktu nengok gue lahir, elu hamil?”
“Ya. Aku berusaha menutupinya. Aku nggak mau kamu jadi sedih.”
“Sepulang mengantar kamu ke Bandung, aku langsung ke Medan menemui Kendi. Been inilah hasilnya.”
“Kamu menikah dengan Kendi?” tanya Alexandria.
Cessia menggelengkan kepala. Tersenyum pahit. Tangan dia meraih tangan Alexandria. Matanya sesekali menatap Maria.
“Kendi tidak menikahiku. Dia takut kehilangan dua putrinya. Meski sangat ingin punya anak laki-laki. Sejak tahu aku hamil, dia meminta aku tinggal di Medan. Setidaknya bisa menemani aku saat aku butuh dia.”
“Dan Been adalah buah cintaku dan Kendi yang tak bisa lagi dipisahkan. Sudah menjadi satu dalam tubuh Been. Lihat saja mata, hidung, kulitnya, rambutnya persis Kendi,” kata Cessia seperti mendapatkan muara. Waktu yang memisahkan mereka menjadi penyedot kisah begitu lancarnya.
Alexandria dan Maria terpukau mendengar cerita Cessia. Sebuah cerita cinta yang tulus. Cinta yang tak terkalahkan oleh apa pun.
“Aku juga tidak menikah dengan Vano,” Alexandria memulai cerita tentang dirinya. Maria hanya terdiam di samping Alexandria. “Bukan salah Vano, si impoten itu memang belum menceraikan gue sampai sekarang.”
“Terus?”
“Gabriel dan Cinta anaknya Vano kan?”
“Cuma Gabriel yang gue pastikan anaknya Vano. Kalo Cinta, gue ragu. Tapi matanya sih sama.”
“Maria, kamu baik sekali. Menerima Alexandria dengan segenap kesalahannya. Menemani Vano dengan setumpuk kemungkarannya.”
Cessia memeluk Maria hangat. Dia merasa empati untuk apa yang dirasakan Maria. “Aku ikut merasakan apa yang dirasakan Maria. Itulah kenapa aku tidak ngotot meminta Kendi menikahiku,” Cessia melanjutkan cerita.
Wajah ayu Cessia belum luntur. Badannya lebih ramping. Dia terlihat lebih bahagia dari beberapa tahun silam. “Aku memang bahagia. Aku setiap hari bersemangat karena aku memiliki Been. Memiliki cinta Kendi,” Cessia tersenyum hangat, “tapi lebih dari itu, aku sudah hidup sehat. No wine, no alcohol, no cimeng.”
Alexandria merasa iri dengan jalan hidup Cessia. Dia lebih kuat. Lebih mensyukuri atas apa yang dia alami. Dia memang pantas mendapatkan cinta Kendi. Meski tidak seutuhnya diikatkan dalam pernikahan.
Bersambung Ke Bagian ke IX (sembilan)

