Cinta Alexandria & Selinting Ganja (Tamat)

Hari Terakhir Alexandria

Kedatangan Cessia ke rumah Maria menyadarkan Alexandria. Alexandria pelan-pelan mengubah pola hidupnya. Dia mulai menghargai Maria. Tidak ada lagi percintaan liar di depan mata Maria.

Meski kadang dia tidak ragu-ragu melakukan apa pun bersama Vano di hadapan Maria. Dari minum alkohol sampai bercinta di kamarnya Maria,  Alexandria lakukan. Dia memang liar. Dia memang semakin tak punya hati.

Dan Alexandria sekarang bukan lagi Alexandria yang dulu. Alexandria yang dikenal ramai. Alexandria yang selalu bicara apa adanya. Tubuhnya yang dulu seksi, sekarang tinggal selembar. Wajahnya yang cantik terlihat semakin lebih tua dari seharusnya. Rambutnya yang ikal kian menipis.  

“Antar  aku pulang,” pinta Alexandria pada Vano.

“Pulang ke mana?”

“Ke rumah Mama.”

Vano menganggukkan kepala tanda setuju. Ia meminta Maria mengemasi pakaiannya. Tapi tidak pakaian Gabriel dan Jasmine.

“Gabriel dan Jasmine tetap di sini!” kata Vano tegas.

Bersama Maria, Vano mengantarkan Alexandria yang sakit ke rumah Ibunya yang lama ia tinggalkan. Dari dalam rumah, seorang anak perempuan membukakan pintu untuk mereka. “Mencari siapa Om, Tante?” tanya gadis cilik itu.

“Kamu namanya siapa cantik?”  Maria berusaha mencari tahu. Tapi tidak lama kemudian, seorang laki-laki bertubuh subur keluar dari rumah.

Dia terkejut melihat Alexandria. Laki-laki itu memeluk Alexandria erat. Maria dan Vano hanya terdiam.

“Saya Dhimas. Suami Alexandria,” si tampan itu mengenalkan diri kepada Vano dan Maria. Sementara Alexandria terkulai lemas di ranjang pengantinnya yang selama ini kosong.

“Saya sudah sebulan ini mencari Alexandria. Tapi tidak tahu mencari ke mana. Saya ingin menebus kesalahan saya,” kata Dhimas berusaha menjelaskan sesuatu di hadapan Alexandria yang terdiam kaku. “Saya berobat ke sana kemari
sampai-sampai saya memutuskan untuk tinggal di kampung untuk berobat. Impoten saya sudah sembuh. Yang perempuan tadi anak saya.”

“Anak?” tanya Maria terkejut.      

“Ya,” jawab Dhimas, “anak saya bersama perempuan lain. Saya ingin membuktikan kepada Alexandria bahwa saya tidak impoten lagi. Tapi saya terjebak oleh pernikahan. Saya larut. Sampai-sampai saya tidak berusaha untuk kembali kepada Alexandria.”

“Saya sadar setelah adiknya menghubungi saya, memberi tahu mama mertua telah meninggal dunia.”

Vano dan Maria terdiam. Alexandria yang terkulai lemas tak sadarkan diri mendengar cerita Dhimas yang samar-samar.
Dokter yang memeriksa Alexandria membawa wajah duka. Dia bertanya siapa di antara kalian yang suaminya Alexandria.

“Saya, Dok,” Jawab Dhimas.

“HIV-nya positif.” Kata Dokter.

“Tidak,” Dhimas histeris.

Di bawah kaki Vano, bumi seperti ambles. Belum pernah Vano merasa setakut ini. Kalau ada cermin di depannya, barangkali dia kaget betapa pucat wajahnya.

Alexandria sudah berada di ambang maut. Positif HIV! Dia mengidap AIDS!

Perempuan yang selama ini mengisi hidup Vano, perempuan yang selalu menemani dunia hitamnya. Satu-satunya perempuan liar yang ia kenal. Satu-satunya perempuan yang hadir dalam sanubarinya setelah Maria. Kini dia berada di tepi liang kubur!

Vano tidak berpikir panjang. Dia segera menelepon rumah sakit meminta dikirimkan ambulans. Dia ingin Alexandria mendapat perawatan cukup. Setidaknya ini sebagai permohonan maaf atas pilihannya tidak menerima cinta Alexandria.
Atas ketidakmampuannya menikahi Alexandria.

Cessia yang baru saja tiba langsung melarang niat baik Vano. “Biarkan Alexandria istirahat dengan tenang di kamar ini. Kamar pengantin kalian kan Dhimas?” sergah Cessie, tajam dan langsung merontokkan semua logika setiap rencana yang diajukan orang-orang di dekatnya.

Dhimas hanya menganggukkan kepala. Dia tak tahu lagi harus bicara apa. Vano meminta izin Maria untuk menemani Alexandria di hari-hari terakhirnya. “Bukan cuma kamu, aku juga mau menemani Alexandria,” Maria bijak menjelaskan kehendaknya.

Hari-hari Alexandria hanya terkulai lemas di ranjang pengantinnya. Dia berjuang melawan virus HIV yang sedang memorak-porandakan kekebalan tubuhnya. Vano dan Dhimas setia berada di sisi tempat tidurnya. Kedua lelaki ini ingin berada di samping Alexandria  saat ia mengembuskan nafas terakhir.

“Cessia...” kata Alexandria, suaranya parau.

“Aku pernah bilang sama kamu dulu, banyak laki-laki yang menginginkan tubuhku. Dari yang banyak itu, hanya sedikit yang ingin mengawiniku. Dari sedikit itu, hanya satu atau dua yang sungguh-sungguh mencintaiku. Yang sedikit itu pun tidak ada yang menghargaiku. Karena itu aku harus menghargai diriku sendiri, meski terlambat.” Suara Alexandria terbata-bata.

Cessia hanya tersenyum memberikan semangat kepada Alexandria.

“Meski aku belum pernah merasakan malam pertama di ranjang pengantin ini, aku ingin mati di ranjang pengantinku. Bukan di ranjang rumah sakit atau ranjang kosku yang penuh cinta dan lintingan ganja.” (*)


Footnote:
Chairil Anwar, Cintaku Jauh di Pulau


Salam'
NURY SYBLI

Share:

Facebook    StumbleUpon    Newsvine