Foto Jurnalistik Terbaik Dipamerkan di Galeri Nasional

There are no translations available.

SYBLI.COM Untuk pertama kalinya, Pewarta Foto Indonesia memberikan anugerah foto jurnalistik terbaik. Sejak 14 Februari-7 Maret, berbagai foto terbaik kategori politik, hukum, ekonomi, sosial, olahraga, seni-budaya, bencana nasional, dan essay dipamerkan di Galeri Nasional, Jakarta.


Pemenang Anugerah Pewarta Foto jatuh pada “Jenazah Guru Bangsa” hasil jepretan Trisnadi Marjan. Fotografer Associated Press ini mengabadikan iring-iringan peti mati mantan Presiden Abdurrahman Wahid atawa Gus Dur di mesjid di Jombang, Jawa Timur. Peti berbungkus bendera merah-putih yang dipanggul sejumlah personil TNI itu menjadi obyek di tengah foto. Di kiri-kanan peti tersebut, ratusan tangan terangkat seperti ingin menyentuh peti mati Gus Dur.


Komposisi sangat apik dan waktu yang pas membuat foto itu menjadi sangat hidup. Sang fotografer menyatakan foto itu berhasil diperolehnya karena instingnya memaksakan dia masuk kembali ke dalam mesjid meski sempat diusir. “Insting saya mengatakan akan mendapat momen yang baik di dalam mesjid,” ujarnya. Foto ini juga menjadi juara foto kategori politik.


Pemenang kategori ekonomi adalah Yudhi Sukma Wijaya. Fotografer The Jakarta Globe ini mengabadikan sejumlah penjahit Sinar Surya Tailor, Sentiong, Jakarta, yang menghentikan kerja selama beberapa jam akibat pemadaman bergilir. Efek dramatis terlihat dari nyala lilin yang membantu pencahayaan.


Adapun pada kategori hukum terpilih foto karya P.J. Leo dari The Jakarta Post. Leo menampilkan foto terdakwa kasus perjudian di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang mencium anaknya yang masih bayi dari balik sel. Tak semua wajah terdakwa dimunculkan. Begitu juga dengan wajah sang anak.


Fokus foto ada pada bibir terdakwa yang menyembul dari jeruji, dan belaian tangan terdakwa pada pipi anaknya yang disambut pegangan jari-jari mungil si bayi.


Pada kategori essay foto, Gusuran Cilincing karya Desmunyoto P. Gunadi dari Jurnal Nasional menjadi pemenang. Sebagai foto utama, Gunadi fokus pada tangan memegang botol yang menjadi bom molotov. Api di tengah jalan dan sejumlah warga yang berjaga menjadi latar belakang foto. Gunadi juga menghadirkan wajah murka warga Cilincing yang menolak penggusuran. Mereka berbaris di belakang barikade balok kayu dan terlihat siap tempur.


Agus Susanto dari Kompas menjadi pemenang kategori olahraga. Ia memotret anak muda suporter Persija melintas di antara pedukung suporter lain dalam pertandingan melawan Persipasi di Stadion Patriot, Bekasi, Jawa Barat. Anak muda berjaket Persija itu menutup hidung dan mulutnya dengan slayer klub kebanggaannya. Matanya tajam memandang arah kamera. Penggunaan flash saat sore menjelang malam memperkuat obyek yang difoto.


Lalu, kategori seni-budaya dimenangkan oleh Made Nagi dari European Pressphoto Agency. Ia mengabadikan festival tahunan Omedan-omedan yang membolehkan pasangan muda-mudi berciuman di depan umum sehari setelah Nyepi. Seorang laki-laki—tampak bernafsu—mencium pipi seorang perempuan di tengah guyuran air. Si perempuan memasang wajah seperti menolak, tapi tak bisa berbuat apapun.


Pada kategori sosial, karya Rahmad Suryadi berjudul “Melepas Calhaj” menjadi pemenang. Ia memotret dari belakang belasan orang yang tengah melambai ke arah pesawat yang mengangkasa. Pesawat itu mengangkut calon jemah haji dari Bandara Polonia, Medan, Sumatera Utara.


Crack Palinggi dari Reuters memenangkan kategori bencana nasional. Foto berjudul "Yang Tersisa" karya Crack mengabadikan korban gempa di Dusun Kota Pantai, Padang Pariaman, Sumatera Barat. Dalam foto berlatar belakang bukit dan tanah gundul ini terlihat seorang lelaki membawa karung berisi sekitar selusin bebek—kepala bebek menyembul dari karung—di atas kepalanya.


Salah satu juri, Oscar Matuloh, dalam sambutannya mengatakan Anugerah Pewarta Foto merupakan indikator kebangkitan dunia fotografi jurnalistik di Indonesia. Oscar menilai sepanjang sekitar 21 tahun fotografi jurnalistik nasional seperti menghadapi sakaratul maut. Fotografi pun hanya dipandang sebagai penghias media cetak dan multimedia. “Fotografi begitu mudah ditelan waktu,” katanya.

Share:

Facebook    StumbleUpon    Newsvine