Manusia Pasir

There are no translations available.

Kami bersahabat dengan pasir. Lihatlah, tidak ada sehari pun kami lewatkan tanpa pasir. Bercanda, berkeluh kesah, bermain-main dengan pasir. Terkadang kami  mencoretkan keinginan yang susah diungkapkan di atas hamparan pasir luas, meski kami tahu garis-garis maksud kami akan segera lenyap, terhapus tiupan angin. Tak jarang kami bermusuhan, tak saling menyapa dan menghindar. Tapi rindu meruntuhkan dinding perseteruan dan mengembalikan kami menjadi sejoli yang saling membutuhkan. Atau itu pura-pura saja, karena sesungguhnya kami lekat sejiwa. Kami bersahabat amat lamanya, sejak tetua dan moyang kami tahu bahwa pasir sungguh teman yang menyenangkan, menjadi obat bagi sakit yang kerap mendera para nelayan.


Kami berumah di atas pasir. Bila waktu tiba bagi kami merebahkan badan dari lelah seharian mencari ikan, pasir pelipur lara. Kala panas terik menjemur ikan sudah tak tertahankan, kami jumpai pasir yang menenangkan. Pada saat memasak, kami benamkan kaki di dalam pasir, nyaman rasanya. Kami tidur di atas kasur pasir. Kami melahirkan anak cucu kami di atas pasir. Kami berumah di atas pasir.

Kami manusia pasir. Setelah pergi ke mana-mana kami tahu, pasir adalah kami. Lebih dari yang kami kira, pasir telah menjadi napas kami. Kami lahir, tumbuh, dan hidup dengan pasir. Di sini, laut luas, angin setia, ombak jauh, garam, ikan, dan kami, manusia pasir.

 

Sumenep, Madura, 11 Agustus 2010
Nury Sybli

Share:

Facebook    StumbleUpon    Newsvine